“Hari ini, aku disini
Berjuang untuk bertahan
Padamkan luka dan beban yang ada
Yang telah membakar seluruh jiwa
Kucoba resapi, kucoba selami
Segala yang telah terjadi
Kuambil hikmah-Nya
Rasakan nikmat-Nya
Dan kucoba untuk hadapi
I will survive, I will revive
I won’t surrender, and stay alive
Kau berikan kekuatan
Untuk lewati semua ini”
Seperti biasa pagi ini aku memutar lagu Bondan Prakoso yang berjudul “I Will Survive” yang ada di handphone kesayanganku. Meskipun tak sebagus yang orang lain punya, tapi inilah satu-satunya barang kesayangan yang aku punya saat ini. Hatiku bergetar dan merinding saat mendengar lantunan lagu ini. Pekikan suara Bondan yang begitu keren dan aura semangatnya begitu dapat dan berhasil merasuk dalam tubuhku. Energinya begitu kuat. Membuatku semangat saat menjalani hari – hariku. Ya, walaupun saat ini nasib memang kurang memihak dalam hidupku. Tapi aku tahu ini hanyalah sementara dan nanti akan berakhir indah. Tak habis air mata ini aku usap dari mataku saat aku meratapi nasibku sekarang.
Hari ini, kan kupastikan, aku masih ada disini. Mencoba lepaskan dan mencoba bebaskan segala perih dihati. Mencoba untuk meresapi dan mencoba untuk hayati segala yang telah terjadi. Akan kuambil hikmahnya, merasakan nikmatnya, dan kucoba untuk hadapi. Mirip dengan potongan lagu bondan yang diam – diam aku mengikuti dengan ikut menyanyi.
Aku tak ingin dikenal. Aku tak ingin terkenal. Aku hanya ingin dianggap. Dianggap sebagai manusia biasa, seperti manusia lain pada umumnya. Suara itu memberikan luka dan perih dihati. Begitu menyayat. Begitu melemahkan hatiku hingga jatuh kedalam jurang kebencian kepada orang yang begitu tak menganggapku sebagai manusia layaknya manusia. Memang aku hanyalah anak seorang pemulung dengan kaki yang catat. Tapi apakah hati orang begitu keras dan tertutup hingga rasa iba tak mampu nampak dalam benaknya. Ahh sudahlah…aku tak mau membicarakan hal itu.
Yang aku tahu saat ini, aku bersama dengan matahari yang selalu memancarkan sinar kasih sayang dan pelukan hangatnya saat aku terjatuh. Dialah ibuku. Orang terkuat dan tersabar, saat aku khilaf dan tenggelam dalam sifat – sifat gelapku. Ibu…engkau selalu ada saat jiwaku rapuh, dikala kujatuh. And I want you to know there’s always fine to alive, I won’t give up, I won’t giving, and I stay alive for you. Mungkin itulah yang saat ini aku bisa katakan pada ibuku yang begitu aku cintai. Ingin sekali aku membahagiakannya. Membahagiakan dengan segala kekuatanku, dengan segala kemampuan yang masih bisa aku lakukan. Aku yakin roda kehidupan itu akan bergulir dan berputar seiring usahaku untuk menjadi lebih baik. Aku yakin itu.
“I will survive, I will revive
I won’t surrender, and stay alive
I will survive, I will revive
Getting stongger , stay alive
Kau berikan aku kekuatan untuk lewati semua ini”
Dan potongan lirik itu pun akhirnya menjadi akhir dari angan- anganku dipagi yang cerah ini. Sinar mentari begitu indah, begitu cerah. Memberikan pancaran sinar semangat dan hangat yang begitu menggugah untuk menjalani hidup hari ini. Aku akan bertahan. Aku akan berpijak. Dan aku akan berdiri, menggenggam semangat yang meluap untuk membuktikan bahwa hidup ini akan berganti dan bergilir seiring usaha terbaik yang kita lakukan dalam hidup ini.


